ANAK TIDAK JAJAN, BISA!
Jajan dalam artian membeli makanan yang dijual di warung-warung dari uang yang diberikan kepada anak, sepertinya sudah menjadi kebiasaan umum. Mungkin, tidak ada anak yang tidak mengenal jajan. Kebiasaan ini bisa muncul dari faktor keluarga, bisa juga karena faktor lingkungan (pergaulan).
Tidak sedikit kaum ibu yang sejatinya sudah mengenalkan jajan kepada anaknya sejak si anak masih dalam kandungan. Lho? Tengoklah fakta psikologis ngidam. Selalu saja ngidam harus sesuatu yang tidak tersedia di rumah. Sesuatu yang untuk mendapatkannya cenderung menuntut pengeluaran tenaga dan biaya ekstra. Belum lagi rasa mual yang kerap harus diobati dengan makanan-makanan di jalan. Bagaimana lagi? Jangankan memakannya, memasak saja sudah pusing kepala. Jadilah jajan sebagai pilihan. Atas nama siapa ibu jajan? Anak.
Jajan makin teradaptasi ketika anak mulai mengenal aktifitas belanja lewat ibunya. Saat ibu berbelanja ke warung, pasar atau supermarket, biasanya anak melihat makanan yang lebih menarik perhatian daripada makanan rumah. Terlebih, makanan instan yang bungkusnya sering menawan. Berawal ibu membelikan, anak meminta, akhirnya tidak bisa dihindarkan. Ibu belanja = anak jajan.
Kebiasaan ini semakin sulit dilepaskan saat anak sudah merasakaan jajan sebagai dorongan keinginan yang harus dipenuhi. Orang tua pun cenderung memenuhi demi menghindari anaknya merajuk, menangis, bahkan mengamuk. Apa yang kemudian terjadi? Jajan adalah kebutuhan bagi anak. Jajan dijatah sebagai salah satu pengeluaran. Ternyata, semakin besar anak, tuntutan pun semakin banyak sehingga nominal jatah jajan semakin besar.
Benarkah jajan tidak bisa dihindari? Seratus persen anak tidak jajan, kecil kemungkinan bisa dilakukan. Namun, mengontrol anak jajan sampai tahap yang minimal, sangat bisa dilakukan. Bahkan, kontrol jajan ini bisa mendorong anak mengalihkan uangnya untuk yang lain. Menabung, misalnya. Menyenangkan, lho mempunyai anak-anak yang disiplin menerapkan prinsip jajan.
Sebagai ilustrasi, dua anak saya memiliki jatah uang saku Rp 1000 sehari. Ya, cukup seribu. Uang saku sebesar (atau sekecil) itu-lah yang bebas mereka belanjakan. Namun, belanja bukan sembarang belanja. Mereka tidak diperbolehkan belanja makanan. Walhasil, anak pertama saya lebih suka menabung uang jajannya, anak kedua selalu membelanjakan uang jajannya dengan membeli mainan.
Kalaupun mereka boleh membeli makanan, harus sepengetahuan kami. Permen, jelly, chiki, es, dan sejenisnya termasuk yang dilarang. Jajanan gerobak dan pinggir jalan yang diragukan kebersihannya, juga dilarang. Dengan pilihan yang sangat terbatas itu, mereka memilih langkah di atas, ditabung atau dibelikan mainan. Sebagai gantinya, di rumah disediakan camilan dan buah. Kadang camilan buatan sendiri, kadang beli. Bekal kue ke sekolah juga dibawa dari rumah. Biasanya kue tradisional atau biskuit. Kalau dihitung, total nominal “jajan” mereka cukup besar. Tetapi, frame camilan dan buah yang ada adalah “jajan keluarga”, membuat mereka tetap berpikir bahwa jatah jajan sehari mereka adalah Rp 1000 tadi.
Kebiasaan untuk menahan diri terhadap jajan sudah ditanamkan sejak mereka balita. Kalau mereka ikut belanja, maka ada batasan nominal dan kategori jajan yang boleh dibeli. Hal ini diinformasikan berulang-ulang. Terutama, say no for candy etc. Awal-awal menerapkan hal ini saya selalu mengantar mereka jajan. Setiapkali mereka menunjuk permen dan sejenisnya, saya menggeleng. Di rumah, pemahaman tentang efek negatif barang-barang tersebut diberikan. Apalagi ketika mereka melihat secara langsung, banyak teman-temannya di sekolah bergigi geripis. Mereka sepertinya semakin memahami bahwa menahan diri dari jajanan yang dilarang adalah lebih baik.
Hasilnya? Alhamdulillah, sampai sekarang mereka tetap disiplin mengelola “keuangannya”. Berikut sharing pengalaman agar anak lebih mudah mengontrol diri untuk jajan :
1. Tawarkan Anak Untuk Jajan
Lho? Ya, tawarkan jajan kepada anak ketika kita belanja dan dia ada bersama kita. Ini untuk memberikan pemahaman jajan tidak dilarang, namun ada aturannya. Saat anak jajan bersama kita, kita bisa mengontrol berapa dan apa saja jajannya. Kita juga sembari memberikan penjelasan mengapa. InsyaAllah ketika anak jajan sendiri, pamahaman ini akan terbawa. Di sisi lain, dengan menawari jajan, kita berusaha menghilangkan kesan pelit, suka melarang, dan sejenisnya.
2. Uang Saku Terbatas
Berikan uang saku kepada anak kita dalam jumlah yang terbatas. Uang saku ini bukan untuk bebas jajan, tetapi tanda kepercayaan kita kepadanya bahwa dia bisa mengontrol pembelanjaan. Memberikan uang saku dalam jumlah besar hanya mendorong anak untuk lebih konsumtif karena terpengaruh mayoritas anak-anak yang tidak dibiasakan disiplin dalam jajan.
3. Bekal dan Makanan Rumahan
Sebagai gantinya, kita memberi bekal makanan ke sekolah dari rumah. Akan lebih bagus jika bekal ini disesuaikan dengan keinginan anak (dan disetujui orang tua). Misalnya, kue-kue dan biskuit. Yang tidak kalah pentingnya adalah menyediakan camilan di rumah yang mampu menahan anak untuk jajan berulang-ulang. Anak-anak akan lebih menikmati camilan tersebut ketika mereka dilibatkan. Misalnya membuat kue, kudapan, atau minuman. Manfaatkan hari libur untuk “memasak bersama”. Manfaatkan sumber informasi (media cetak, TV, internet) untuk mengayakan diri dengan bermacam resep masakan. Jangan lupa, buah-buahan adalah “camilan” sehat yang sebaiknya selalu ada.
4. Motivasi Menabung
Anak-anak sebenarnya sangat mudah dimotivasi. Apa yang ada di dalam benak mereka adalah keinginan untuk menjadi yang terbaik. Jiwa kompetisi mereka besar. Ketika melihat orang lain di dekatnya melakukan kebaikan dan mendapatkan reward, mereka cenderung meniru. Anak pertama saya hampir tidak pernah menyinggung uang jajannya, bila tidak diberikan. Namun, karena itu sudah menjadi jatah, kami tetap memberikan. Biasanya dia merapel jatah tersebut diambil seminggu sekali, 5 hari sekali, 3 hari sekali. Uang tersebut langsung dimasukkan ke celengan. Tidak menyisakan untuk jajan.
Apakah ia tidak suka panganan? Suka. Tapi, ia lebih suka meminta saya memasaknya atau merasa cukup dengan apa yang kami belikan. Motivasinya menabung terbilang aneh untuk anak kelas 1 SD. Katanya, uang tersebut untuk membeli HP Blackberry. Tabungannya selama di TK ia belikan Ensiklopedi.
Anak saya yang kedua lebih sering membelanjakan uang sakunya untuk membeli mainan seribu-an yang unik-unik. Kadang-kadang ia juga menabung, terutama kalau mendapat angpao ketika ada famili berkunjung atau kita yang bersilaturahmi. Motivasinya menabung juga untuk membeli HP. Tapi, spesifikasinya tidak disebutkan.
Motivasi sesederhana apa pun untuk menabung, seharusnya didukung. Bahkan, meski secara perhitungan kita sudah tahu bahwa tabungan yang mereka kumpulkan tidak bisa memenuhi keinginan mereka dalam waktu dekat. Bayangkan, dengan uang saku Rp 1000 sehari, barapa lama HP atau Blackberry bisa terbeli? Karena itu, biasanya kami memenuhi keinginan tersebut sebagai reward keberhasilan atau prestasi yang mereka raih. Contohnya Ensiklopedi yang mereka beli dari hasil patungan tabungan mereka selama di TK. Ensklopedi seharga hampir 2 juta itu tidak tertutupi oleh jumlah tabungan yang ada. Namun, kami tetap membelikan sebagai hadiah mereka lulus TK, menjadi anak yang baik, dan sebutan lain yang sebenarnya sudah menjadi keseharian mereka.
Artinya, tidak ada “prestasi formal” yang diraih pun kebiasaan baik mereka menabung tetap dihargai. Jadi, sekali dayung banyak pulau terlampaui. Anak mampu mengontrol jajan, memiliki kebiasaan menabung, termotivasi untuk berbuat baik dan tetap menabung.
5. Melibatkan Anak Memasak
Di usia mereka yang tengah tumbuh, sudah selayaknya pendapat dan keinginan mereka tentang menu makanan lebih kita dengarkan. Apalagi, tidak selalu anak kita memiliki selera makan yang bagus. Terkadang, sudah kita buatkan menu yang mereka sebutkan pun masih enggan makan dengan lahap. Setiap hari sebelum berbelanja, yang selalu ditanya tentang menu makanan hari itu adalah anak-anak. Bekal apa yang ingin dibawa, mereka juga yang menentukan (dengan koridor pemahaman jajanan sehat yang sudah mereka pahami). Camilan apa yang ingin dibuat, mereka juga mendapatkan penawaran.
Nah, khusus hari libur, biasanya kami merencanakan memasak kudapan yang kami sukai bersama-sama. Salah satu menu favorit kami adalah empek-empek. Proses apa yang paling anak-anak sukai? Tentu saja, proses membentuk adonan tepung dan ikan tenggiri yang sudah jadi. Namanya anak-anak, bentuk yang mereka buat tentu saja sekehendaknya. Hasil kreasi ini mereka tandai untuk dimakan nantinya. Walhasil, meski bentuknya aneh, mereka lebih bersemangat menghabiskan hasil karya mereka daripada hasil karya ibunya.
Lima tips dii atas saya yakin masih bisa ditambah berdasarkan pengalaman kita semasa anak-anak, maupun ketika membesarkan anak-anak kita. Yang jelas, memberikan pemahaman tentang kontrol jajan kepada anak-anak sejak dini jauh lebih baik daripada membiarkan mereka menjadi generasi konsumtif yang semakin digencet makanan-makanan instan rendah gizi (junk food).
Tulisan ini saya akhiri dengan sebuah dialog keprihatinan seorang nenek terhadap cucunya. Nenek ini memang mengasuh sang cucu karena kedua orang tuanya sibuk. Nenek tersebut bermaksud memberikan permen dan “chiki” kepada anak saya. Anak saya menggeleng sambil tersenyum. “Nggak makan permen dan “chiki”…” tolaknya. “Oh?!” dia kaget, “Jadi, maunya apa?” nenek itu kebingungan. Dikeluarkannya biskuit. “Makasih…” ujar anak saya malu-malu. Ktika anak saya dan cucunya bermain-main, kami mengobrol.
“Anaknya nggak makan permen ya? Nggak mau tadi saya kasih… kalau cucu saya…” lalu, mengalirlah ceritanya tentang sang cucu. Camilan hariannya chiki, permen, dan sejenisnya. Makanan kegemarannya yang sering disebut junk food tadi. “Kalau saya masak sayur bening, goreng tempe, tidak doyan! Apalagi makan makanan seperti yang Ibu sebutkan, misro, lemper, arem-arem… mana mau!” ujarnya getir.
Saya hanya bisa tersenyum, tidak kalah getir. Saya hanya khawatir, sebagaimana generasi sekarang gemar junk food, jangan-jangan seperti itu pula mental dan kesehatan mereka nantinya.
Batam, Februari 2009