Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryJun 3, '10 2:32 AM
for everyone
Menonton (televisi maupun DVD) bersama anak bisa menjadi alah satu alternatif kegiatan in door yang kita pilih. Ya, menonton bersama dalam artian yang sesungguhnya. Bukan sekedar membiarkan anak menonton dan kita sibuk di sekitarnya (melakukan aktifitas rumah tangga atau pun menyelesaikan pekerjaan kantor yang tersisa). Juga bukan dalam artian kita menonton tayangan yang kita pilih dan membuat anak kita duduk menemani meskipun secara rasional dan emosional dia tidak pantas menerima. Bukan. Menonton bersama yang saya maksud benar-benar menonton dan mengomentari tayangan tersebut secara dialogis dengan anak.

Ada beberapa sebab mengapa menonton bersama anak perlu diagendakan secara terencana agar tidak sekedar menjadi kegiatan sambil lalu pembunuh waktu atau iseng-iseng tak bermutu. Pertama, menonton bersama bisa membangun komunikasi yang baik. Setiap tayangan pastilah mendatangkan respon, baik secara verbal maupun non verbal. Dengan menonton bersama, respon kita dan anak kita secara verbal bisa dijadikan bahan obrolan yang edukatif. Misalnya menonton acara kuliner (misal acara televisi Wisata Kuliner-nya Bondan Winarno yang Mak Nyus). Diskusi tentang menu yang disajikan di televisi, bisa sampai ke menu keluarga. Pastilah menyenangkan merancang menu bersama anak kita karena saat memasak nanti, ia juga akan tertarik mengikuti.

Kedua, saat menonton adalah saat yang santai. Secara umum, kita sedang ingin me-refresh pikiran dan tenaga. Saat santai adalah saat yang baik untuk saling mengeratkan hubungan emosional karena kondisi psikis kita cenderung stabil. Sembari mengobrol, kita bisa memeluk, mencium dan menunjukkan kasih-sayang kita pada anak. Kadang, kita pun memerlukan kondisi yang optimal secara emosional untuk bisa merasakan betapa kita menyayangi mereka. Cobalah rasakan ketika menonton bersama. Bandingkan ketika kita menciumnya saat buru-buru hendak berangkat kerja. Berbeda.

Ketiga, menonton bersama bisa menjadi kesempatan bagus bagi orang tua untuk melihat secara lebih obyektif perkembangan pemikiran, perilaku dan hubungan antar anggota keluarga. Mengapa? Saat menonton, orang relatif spontan dan jujur berekspresi. Misalnya menonton Dora The Explorer. Kita bisa memancing tanggapan, pemahaman dan pendapat anak kita terhadap aktifitas berikut komunikasi interaktif Dora terhadap penonton. Atau, kita bisa memperhatikan ekspresinya dan mencoba menganalisis apa yang dia pikirkan dan dia rasakan. Yang jelas, anak sulung saya menganggap aneh kehadiran bintang-bintang yang bisa beraksi layaknya manusia. Anak kedua saya justru sangat senang dengan bintang-bintang itu. Padahal, keduanya sama-sama pernah menonton CD Harun Yahya, membaca bukunya, dan tahu apa bintang itu sesungguhnya secara ilmiah. Namun, sikap yang ditunjukkan terhadap kejadian di tayangan berbeda. Luar biasa, bukan? Informasi yang sama bisa menghasilkan output berbeda. Itu baru satu contoh. Padahal, pasti sangat banyak yang bisa kita temukan dari anak-anak kita.

Menonton bersama memerlukan “pengorbanan” kita. Ya, memang. Kita tentu hanya bisa menonton acara yang memang aman menjadi acara keluarga. Tidak semua yang dilabeli SU oleh stasiun televisi aman. Dulu, saya dan anak-anak sering menonton bersama acara Surat Sahabat. Tayangan gaya feature yang dikomandoi Ishadi SK ini patut diacungi jempol. Surat Sahabat menampilkan kehidupan khas anak-anak dari seluruh Indonesia, secara bergantian tiap episode. Dinaratori oleh anak-anak, menampilkan anak-anak asli penduduk setempat, penuturannya seperti menulis surat, membuat Surat Sahabat terlihat natural dan jauh dari kesan mengada-ada. Meski awalnya sempat sepi iklan, sekarang ini sekitar empat sampai lima spot iklan muncul di jeda komersil Surat Sahabat. Ishadi yang memang “ahli”-nya liputan patut berbangga. Tayangan yang dia besut tidak hanya berhasil secara immateri tetapi juga secara materi, meski butuh waktu. Satu lagi bukti bahwa masyarakat kita sungguh bisa dididik untuk menonton secara baik.

Setiap episode, Surat Sahabat selalu menampilkan kehidupan anak-anak yang dekat dengan alam. Memotong rumput, mencari ikan, berenang di sungai, makan buah-buahan hutan, berinteraksi dengan hewan, dan bermain dengan apa yang alam sediakan, nyaris tanpa sentuhan teknologi. Tidakkah anak kita perlu melihat hal tersebut? Melihat kehidupan yang rasanya tak akan mereka temui anak-anak yang tinggal di kota. Anak-anak saya saat itu sangat antusias melihat kealamian yang ditawarkan Surat Sahabat. Antusiasme yang bisa ditarik pada banyak hal. Mencintai alam, menghargai “ketertinggalan”, merindukan keserasian hubungan antara manusia dengan semua unsur di bumi ini, dan merasakan keagungan Tuhan.

Tontonan apa yang anda pilih bersama anak anda? Silakan mencari dan pastikan tiga hal di atas bisa dijalankan. Melancarkan komunikasi, menguatkan hubungan emosi, dan mengerti situasi-kondisi anak kita secara lebih baik. Selamat mencoba.

nurulfhuda wrote on Jun 3, '10
Kegiatan yang mengasyikkan sekaligus mendidik. Enak, lho menonton bersama anak :)
fightforfreedom wrote on Jun 4, '10, edited on Jun 4, '10
Setuju, mbak. Oiya, dulu saya sering baca tulisan mbak Nurul lho di Batampos.
Kalo ngga keberatan, bisa ngga mbak Nurul merekomendasikan lebih dari yg disebutkan di atas, apa saja acara TV yg layak tonton & apa saja yg ngga layak ? maaf, nge-repotin... :-)
atau kita bisa ramekan halaman ini dg saling memberikan komentar tiap2 acara yg direkomendasikan :-)
nurulfhuda wrote on Jul 12, '10
acara TV yg layak tonton & apa saja yg ngga layak
Alhamdulillah. Iya, saya dulu memang mengisi kolom tetap saya di Batam Pos. Wah, harus menonton TV dulu, tuh. Masalahnya... he3x, di rumah saya tidak ada TV. Hm... Yang jelas, konten kekerasan, klenik, pelecehan fisik, pelecehan psikologis, apa pun bentuk acaranya, out of program! Wah, bisa banyak tuh ya? he3x.
Add a Comment
   
Online Seller

nurul

Menjadi Ibu adalah Anugerah Terindah
© 2012 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · API · Help · Sitemap

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.